Avtur dari Campuran Sawit Diuji Coba ke Pesawat, Ini Hasilnya – Kabarin.co.id

  • Bagikan

Jakarta, kabarin.co.id – PT Pertamina (Persero) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) telah berhasil memproduksi bahan bakar campuran bioavtur, yakni mencampurkan 2,4% minyak inti sawit atau refined bleached degummed palm kernel oil (RBDPKO) dengan menggunakan katalis “merah putih” buatan ITB, di Kilang Cilacap Pertamina.

Hasil pencampuran bioavtur ini dinamakan Jet Avtur 2,4 (J2,4).

Sebelum dipasarkan secara komersial, J2,4 ini diuji coba terlebih dahulu. Serangkaian uji coba atau tes ground run telah dilakukan dan tim penguji menyimpulkan bahwa semua tes berjalan dengan normal, tanpa menimbulkan gangguan apapun.

Rangkaian tes ground run dilakukan terdiri dari uji variasi engine power hingga diperoleh data sampai setting engine power. Setelah itu, dicoba juga respons dari mesin pada pada saat pilot melakukan perubahan engine power, baik secara perlahan lahan maupun secara cepat. Terakhir adalah uji perubahan dari engine power, di mana engine yang sudah diakselerasi kemudian akan dipaksa untuk akselerasi secara tiba tiba.

“Dari hasil pengetesan ground run sekitar 20 menit, didapatkan hasil sebagai berikut, bahan bakar habis 50 liter, start engine dengan engine sebelah kanan yang sudah kita isi dengan bioavtur kemudian diikuti dengan start engine sebelah kiri semuanya berjalan normal tidak ada masalah,” ujar pilot pesawat uji Kapten Adi Budi Atmoko dalam review-nya setelah melakukan tes di Bandung, Senin (6/9/2012), seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pilihan Redaksi
  • Blok Migas RI Tak Laku Saat Insentif Sudah Jor-joran, Kenapa?
  • 2022 Pemerintah Siap Hapuskan BBM Premium?
  • Masa Depan Harga Minyak Seperti Warnanya: Hitam Legam!

“Masalah juga tidak terjadi setelah dilakukan uji kekuatan, dengan power pertama kali adalah flight idle hingga maksimum power, sepertinya engine dari bioavtur ini tidak ada masalah, terbukti hingga sampai tekanan maksimum semuanya berjalan lancar tidak ada masalah di engine, tidak ada “batuk-batuk” seperti jika terjadi sesuatu kontaminasi terhadap engine, tetapi ini lancar semua tidak ada masalah,” tambah Adi.

Dalam tes selanjutnya, “tim melakukan akselerasi dan deselarasi, itu adalah engine-nya kita slim dari power idle, kemudian kita kasih ke maksimum power kemudian kita kembalikan lagi ke power idle secara moderat dan secara cepat, itu semuanya tidak ada masalah, tidak ada engine flim out, tidak ada “batuk-batuk” juga dan semuanya berjalan normal,” lanjut Adi.

“Tes terakhir yang selanjutnya dilakukan, yakni tes kebalikannya dari maksimum power kemudian ditarik kembali ke idle, kemudian kita tarik lagi ke maksimum dan ke idle lagi juga semuanya normal dan lancar semua hingga kita shutdown engine-nya, alhamdulillah semuanya lancar,” pungkas Adi.

Setelah dilakukan tes ground run, akan dilanjutkan dengan uji terbang selama 9 hari kalender menggunakan pesawat CN-235-220 milik PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Pesawat uji akan berangkat dan mendarat di Bandara Husein Sastranegara Bandung.

Direncanakan dalam masa uji terbang tersebut, pesawat akan melakukan refueling dengan bioavtur J2,4 di Bandara Soekarno-Hatta untuk memberikan kesempatan bagi pimpinan yang berada di Jakarta dapat ikut menyaksikan proses refueling dan uji terbang bahan bakar J2,4.

Sebagai informasi, Pertamina bersama ITB didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah berhasil memproduksi bahan bakar campuran bioavtur yang dihasilkan dari bahan baku 2,4% minyak inti sawit atau RBDPKO dengan menggunakan katalis merupakan produk hasil kerja sama ITB dengan Pertamina.

Bioavtur yang diproduksi di Unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) Refinery Unit (RU) 4 Pertamina Cilacap tersebut disingkat dengan Jet Avtur 2,4 (J2,4).

Produk bioavtur ini telah dua kali uji statik di test-cell milik PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia dengan menggunakan bahan bakar avtur Jet A1 dan bioavtur (J2,0 dan J2,4) pada engine CFM56-3 yaitu tanggal 23-24 Desember 2020 dan 24-25 Mei 2021, dengan performansi engine yang menggunakan bioavtur (J2,0 dan J2,4) memberikan korelasi yang sama dengan menggunakan Jet A1.

Dengan berhasilnya uji statik ini, maka tahap berikutnya perlu dilakukan uji terbang untuk memastikan bahwa penggunaan bioavtur secara teknis dan safety dapat diimplementasikan dengan baik.

[Gambas:Video CNBC]

(wia)

Sumber kabarin.co.id

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *