Buffett dan Robinhood

  • Bagikan
arrow daftar

ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KABARIN.CO.ID – Warren Buffett tak tahan juga mengomentari kehadiran investor ritel angkatan pandemi di bursa efek bursa Amerika Serikat (AS) setahun terakhir. Seusai pemaparan kinerja Berkshire Hathaway Inc yang dikendalikannya, investor kawakan itu menilai para pemain ritel yang berhorizon jangka pendek memperlakukan bursa tidak ubahnya kasino.

Kritik Buffett itu menyasar para investor baru yang punya pilihan unik dalam membeli saham. Mereka tidak melihat prospek bisnis, atau kinerja dari emiten. Melainkan, mengincar keuntungan dengan membeli saham-saham, yang masuk dalam daftar short sell hedge fund.

Tak heran, sasaran belanja investor ritel jenis ini adalah saham-saham emiten gurem yang kinerjanya meragukan, semacam Gamestop atau AMC. Saham-saham semacam ini kini lazim disebut saham meme.

Kritik Buffett menyulut serangan balik Robinhood Financial, perusahaan broker efek yang populer digunakan oleh para pemain ritel pemburu saham meme. Menangkis tudingan Buffett sebagai penyulut minat orang berjudi di saham, Robinhood menyebut dunia telah lelah dengan Buffett yang berlagak seperti satu-satunya ahli investasi.

Jurubicara Robinhood pun mengakhiri pernyataannya dengan lantang. “Kami tidak akan diam saja membiarkan orang-orang seperti Buffett mengatur kehidupan finansial masyarakat kebanyakan.”

Kritik Buffett, maupun tanggapan Robinhood yang berapi-api, punya kebenaran masing-masing. Buffett bisa jadi memberi penilaian semacam itu karena yang muncul di media AS selama ini hanyalah kisah investor Robinhood yang berujung sedih, seperti yang termuat di Wall Street Journal, akhir April lalu.

Robinhood pun tak keliru jika bersikap sinis ke Buffett. Seperti yang diakuinya sendiri ke pemegang saham Berkshire, Buffett melakukan kesalahan dalam memilih strategi di tahun lalu, seperti menjual saham Apple dan melepas saham-saham maskapai penerbangan.

Yang tak keliru juga adalah ruang mencari cuan di bursa selama masa pandemi sejatinya terbatas. Memang, sejumlah saham berhasil bangkit dari harga terendahnya yang terbentuk di awal dunia mengalami darurat kesehatan.

Peluang lain nyaris tak ada, mengingat prospek bisnis ya begitu-begitu saja akibat pandemi yang tak kunjung berakhir. Situasi macam ini yang memancing sebagian investor, entah statusnya ritel atau bandar, mengambil langkah ugal-ugalan dalam mencetak cuan.

Penulis : Thomas Hadiwinata

Redaktur Pelaksana

Sumber : Harian KONTAN
Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

Sumber Antara News

  • Bagikan