oleh

Fakta Dibalik Fenomena Viral Panic Buying

Kabarin.co.id, Jakarta – Sekitar awal Maret 2020 lalu, warganet dihebohkan dengan viralnya masyarakat yang berlomba untuk mengantre di supermaerket.

Hal tersebut bertujuan untuk membeli sembako, dan sebagai salah satu bentuk kepanikan akibat covid-19 atau yang juga sering disebut dengan panic buying.

Dalam kondisi tersebut, muncul pupa viral yang seakan memberikan klarifikasi bahwa pemborong tersebut merupakan pedagang yang bisa membeli banyak barang.

Dan pada kenyataannya, beberapa supermarket baik ritel atau grosir, memang terjadi antrean panang seiring dengan tanggal muda yang bertepatan dengan tanggal gajian.

Apa benar tengah terjadi panic buying? Berdasar dari data Bank Indonesia (BI), menunjukkan rilis angka inflasi minggu pertama hingga minggu ketiga bulan Maret 2020, yakni sebesar 0,11%. Dan secara month to month tercatat sebesar 2,98%.

Dijelaskan oleh Perry Warjiyo selaku Gubernur BI, data tersebut mencerminkan angka yang rendah serta terjaga. “Ini membuktikan pasokan bahan makanan cukup,” jelasnya ketika telekonferensi, Selasa (24/3/2020).

Lebih lanjut, Perry juga memberikan apresiasi pada pihak pemerintah pusat dan daerah, yang sudah bersama-sama untuk menjaga suplai makanan dan minuman supaya tetap terkendali.

Sedangkan dari sisi nilai tukar, Rupiah juga dinyatakan masih stabil dari sisi bid dan over pada pasar valuta asing. Kondisi tersebut, imbuhnya, bisa terjadi tidak hanya adanya upaya BI, namun juga para eksportir yang sudah memasok dolar ke pasar, sehingga Rupiah masih terjaga.

Perry menyebut, BI memastikan bahwa akan terus berupaya untuk berada du pasar guna menstabilkan nilai tukar. Sikap tersebut juga berlaku bagi pasar tunai ataupun secondary market.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News