Manulife Aset Manajemen Indonesia optimistis outlook pasar saham positif pada 2021

  • Bagikan
arrow daftar

ILUSTRASI. Stan manajer investasi penerbit reksadana, Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) . KONTAN/Daniel Prabowo

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Herlina Kartika Dewi

KABARIN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja negatif sepanjang Maret kemarin dengan terkoreksi 4,11%. Kendati demikian, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) masih meyakini bahwa outlook pasar saham Indonesia masih bergerak ke arah yang positif, setidaknya lebih baik dari tahun lalu.

Senior Portfolio Manager Equity MAMI Samuel Kesuma CFA dalam laporan Seeking Alpha edisi April mengatakan, koreksi pasar saham diakibatkan oleh kekhawatiran inflasi akan melonjak di Amerika Serikat (AS) karena proses vaksinasi yang berjalan baik. Apalagi ditambah dengan adanya stimulus besar dari Presiden Joe Biden yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi. 

Seiring dengan inflasi yang meningkat maka dikhawatirkan The Fed juga akan ikut lebih cepat melakukan pengetatan kebijakan moneter untuk memitigasi lonjakan inflasi. Sentimen ini tercermin dari melonjaknya imbal hasil US Treasury (UST) yang naik dari kisaran 0,9% di akhir 2020 ke kisaran 1,7% di akhir Maret 2021. Melonjaknya imbal hasil UST menyebabkan ketidakpastian dan volatilitas di pasar finansial global.

“Dalam pandangan kami kenaikan imbal hasil US Treasury saat ini justru mencerminkan ekspektasi pasar yang lebih positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Kami tidak melihat ancaman lonjakan inflasi dapat terjadi berkepanjangan di AS yang akan memaksa The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneter,” ujar Samuel dalam keterangan resminya yang diterima Kontan.co.id, Rabu (14/4).

Baca Juga: Ini daftar 10 Manajer Investasi dengan dana kelolaan terbesar hingga kuartal I-2021

Ekonomi AS pun masih dalam tahap pemulihan dan tingkat pengangguran masih relatif tinggi pada level 6%, jauh dari level 3,5% sebelum pandemi, sehingga tekanan inflasi masih relatif lemah walau ada stimulus fiskal.

Oleh karena itu, Samuel memperkirakan, ke depannya imbal hasil US Treasury masih dapat bergerak naik seiring dengan ekonomi AS yang membaik. Hanya saja, ia melihat kenaikannya cenderung lebih terbatas dan gradual karena beberapa faktor.

Pertama, wacana kenaikan pajak yang akan diajukan pemerintahan Joe Biden. Kedua, laju pemulihan yang cenderung lebih lambat dari ekspektasi seiring dengan risiko gelombang ketiga Covid-19 di beberapa kawasan. Serta, potensi meningkatnya pembelian UST oleh investor global seiring dengan imbal hasil UST yang telah naik ke level atraktif.

“Kenaikan imbal hasil UST yang gradual akan mengurangi kekhawatiran pasar dan dapat mengembalikan sentimen investor global. Yield UST yang di kisaran 1,7% pun sebetulnya masih relatif rendah, karena dalam 10 tahun ke belakang rata-rata yield UST di kisaran 2,0%, sehingga level saat ini masih wajar dan tetap suportif bagi pasar finansial,” imbuh Samuel.

Samuel juga menegaskan di tengah melonjaknya imbal hasil UST, risiko untuk terjadinya tapering masihlah minim. Namun apabila tapering terjadi, kondisi makroekonomi Indonesia saat ini dalam posisi lebih baik dibandingkan 2013 sehingga dapat lebih resilien dalam menghadapi guncangan yang ada. 

Lebih lanjut, ia juga meyakini investor global belum akan menjauh dari pasar saham Asia. Ia menilai, pemulihan ekonomi AS sebetulnya juga berdampak positif bagi negara Asia, karena meningkatkan permintaan barang produksi dari negara-negara Asia sehingga akan berdampak positif bagi ekonominya.

Ditambah lagi, China memiliki penanganan pandemi yang lebih baik dan pemulihan ekonominya sangat cepat, di mana di kuartal I-2021 ini pertumbuhan ekonominya diperkirakan dapat mencapai kisaran 15–20% yoy, dan untuk tahun 2021 dapat mencapai kisaran 7–9%. 

“Oleh karena itu, kami percaya bahwa faktor fundamental adalah driver utama kinerja pasar saham jangka panjang. Saat ini kami melihat fundamental ekonomi dan emiten Indonesia mengarah pada level yang lebih baik dibanding tahun lalu sehingga dapat berdampak positif pada kinerja pasar saham,” jelas Samuel.

Ia menambahkan, terdapat beberapa faktor lain yang mendukung pandangan MAMI yang suportif bagi pasar saham. Mulai dari proses vaksinasi yang membaik sehingga dapat mendorong pemulihan ekonomi dan keyakinan masyarakat dan dunia usaha. 

Baca Juga: Gandeng DBS Indonesia, Manulife rilis tiga produk unitlink baru

Lalu, kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia yang lebih proaktif untuk mendukung pemulihan ekonomi melalui berbagai insentif seperti di sektor otomotif dan properti. Serta pertumbuhan laba emiten yang diperkirakan membaik di 2021 dibandingkan kontraksi yang terjadi di 2020.

Dus, kondisi tengah terkoreksinya pasar saham justru dijadikan peluang bagi MAMI untuk masuk secara bertahap ke beberapa sektor yang memiliki potensi menarik di tengah dinamika pasar saat ini. Mami melihat sektor komoditas dapat menjadi beneficiary dari pemulihan ekonomi global dan juga fokus pada green economy. 

Selain itu, sektor telekomunikasi juga menarik didukung oleh keluarnya sektor ini dari daftar negatif investasi sehingga membuka potensi masuknya investasi asing. Sementara sektor properti juga bisa dilirik karena didukung oleh insentif pemerintah yang dapat meningkatkan minat pasar.

“Di tengah kondisi pasar yang sangat dinamis kami terus mencermati perkembangan terkini pasar global dan domestik serta memanfaatkan jaringan global Manulife Investment Management untuk mendapatkan analisa terkini yang dapat membantu tim investasi kami untuk membentuk posisi portofolio yang optimal,” pungkas Samuel.

 

Reporter: Hikma Dirgantara
Editor: Herlina Kartika Dewi

Sumber Antara News

  • Bagikan