Mengukur Dampak Ekonomi Mudik

  • Bagikan
kontan.co.id

ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KABARIN.CO.ID – Pemerintah memang sudah melarang mudik tahun ini, karena adanya ancaman tsunami Covid-19 seperti yang terjadi di India. Hal ini menjadi tantangan pemerintah untuk meredam sebaran pandemi dan tsunami Covid-19 di Indonesia.

Jika tsunami Covid-19 terjadi maka semua stimulus yang dilakukan pemerintah, termasuk juga vaksinasi nasional menjadi tidak akan berarti. Jadi, larangan mudik kali ini harus dicerna secara bijak dan karenanya beralasan jika seruan silaturahmi secara online- virtual perlu digencarkan.

Ironisnya, meski sudah semangat untuk mudik tetap saja ada. Data Kementerian Perhubungan di tahun 2017 ada 20 juta pemudik lalu 2018 ada 21,6 juta atau naik 6% dan 2019 ada 23 juta pemudik.

Sementara pada 2020 jumlah kendaraan keluar atau mudik lewat tol 552.759 buah atau turun 66% dan arus balik 438.688 buah atau turun 70% (periode H-7 dan H+7 lebaran). Prediksi kali ini turun signifikan jumlahnya.

Ritual mudik ini terbukti bisa menggerakan ekonomi di semua sektor. BI menyiapkan uang tunai Rp 152,14 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan atau Idul Fitri 1442 H. Jumlah ini naik 39,33% dibanding kan dengan tahun 2020 yang sebesar Rp 109,20 triliun.

Oleh karena itu, beralasan jika perputaran uang selama mudik naik pesat. Prediksi BI penarikan uang saat mudik 2021 naik 20% ketimbang 2020. Penarikan uang tunai pekan terakhir Ramadan sekitar Rp 15,4 triliun per hari.

Realitas ini menunjukan perputaran uang selama mudik menarik dicermati, tidak saja dari aspek sosial tetapi juga nilai ekonomi. Jadi beralasan jika BI menyediakan 4.608 kantor bank tempat penukaran uang baru untuk keperluan lebaran tahun ini.

Fakta Mudiknomics–ekonomi yang digerakkan oleh aktivitas mudik–terbentang dari daerah keberangkatan ke daerah tujuan. Yang menarik dicermati Mudiknomics yaitu eksistensi Pulau Jawa yang menjadi titik perputaran uang. Hal ini tidak lepas dari fakta Jawa menjadi tujuan mudik karena mayoritas perantau dari Pulau Jawa.

Data BI menunjukan akumulasi net inflow atau uang yang masuk dibanding uang yang keluar di Pulau Jawa semakin tinggi. Artinya, perputaran uang di Pulau Jawa cenderung meningkat selama musim mudik lebaran.

Prediksi BI Perwakilan Jawa Timur, arus uang kas kuartal II-2021 atau Lebaran akan mengalami net-outflow (uang yang keluar lebih tinggi dibanding yang masuk bank). Net-outflow masih tetap terjadi meski ada larangan mudik yang berpotensi menekan pergerakan ekonomi atau perputaran uang di daerah,

BI melihat adanya perputaran uang atau pada posisi net-outflow karena meski ada larangan mudik –dan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro–tempat wisata tetap dibuka, tempat perbelanjaan juga dibuka sehingga harapannya ada pergerakan ekonomi sehingga ada perputaran uang saat momen libur Idul Fitri.

Sebagai perbandingan, pada mudik Lebaran 2017, net inflow di Jawa Tengah mencapai Rp 8,5 triliun sedangkan di Jawa Barat Rp 11 triliun. Di Jawa Timur cenderung rendah yaitu Rp 5 triliun, dan di Yogyakarta Rp 3 triliun.

Fenomena kontras justru terjadi di kota-kota lain yang menunjukkan net inflow cenderung negatif. Bahkan di Jakarta net inflow bisa minus Rp 13,7 triliun. Hal ini tidak terlepas dari pergerakan pekerja dari Jakarta ke provinsi lain di Pulau Jawa sehingga perputaran uang di Jakarta terhenti.

Dampak sektoral

Kalkulasi Mudiknomics dapat kita lihat dari berbagai aspek dengan asumsi kondisi normal, bukan pandemi. 

Pertama, jasa angkutan. sektor ini salah satu aspek utama dalam melihat perputaran uang selama mudik. Data Kementerian Perhubungan menunjukan besaran kalkulasinya dan hal ini tertolong oleh mudik gratis.

Mudik gratis berdampak positif dan yang diselenggarakan oleh sejumlah korporasi membantu mitra usaha untuk mudik gratis dan ini secara tidak langsung mampu mengurai kemacetan lalu lintas – mereduksi kecelakaan.

Berdasarkan data operasi ketupat 2020 (24 April-7 Juni 2020) ada 156.774 kendaraan yang diminta untuk putar balik karena hendak mudik. Perinciannya 78.455 kendaraan diputar balik selama arus mudik dan 78.319 kendaraan di arus balik. Jadi total hingga penutupan operasi ada 156.774 kendaraan yang diputar balik.

Dari jumlah itu, 70.719 kendaraan diputar balik karena hendak keluar-masuk Jakarta (rinciannya 41.439 kendaraan diputar balik kembali ke Jakarta dalam rangka larangan arus mudik (24 April-26 Mei) dan 29.280 kendaraan sisanya dicegah masuk ke Jakarta saat arus balik karena tidak memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) Jakarta selama periode 27 Mei-7 Juni 2020.

Kedua, aspek sandang. Fakta konsumsi untuk sandang cenderung meningkat menjelang lebaran. Paling tidak, hal ini bisa terlihat dari tren penjualan busana muslim. Data dari penjualan busana muslim cenderung meningkat 75 % sehingga hal ini menjadi bukti yang sangat kuat tentang Mudiknomics dari aspek sandang.

Asumsinya setiap pemudik membeli 2 setel pakaian maka kebutuhan kumulatif dari aspek sandang mencapai 60 juta potong pada musim mudik Lebaran.

Data BI mengungkapkan, penjualan eceran Mei 2019 meningkat yang didorong oleh faktor musiman. Indeks penjualan riil (IPR) hasil survei penjualan eceran BI naik 7,7% (yoy), lebih tinggi dari 6,7% (yoy) di April 2019. Peningkatan terutama didorong penjualan kelompok sandang, suku cadang dan aksesori dan makanan, minuman dan tembakau seiring permintaan yang meningkat selama ramadhan – lebaran.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia-Aprindo memprediksi penjualan 2021 turun 30% dengan asumsi faktor larangan mudik.

Ketiga aspek pangan. Kendati harga sembako cenderung naik di Ramadan-Lebaran, animo konsumsi saat mudik tidak dapat dicegah. Pun, meski stok pangan ditambah, inflasi sektor pangan tetap terjadi.

Situasi itu tergambar pada inflasi April 2019 yang tertinggi sejak 2008 karena bertepatan dengan Lebaran. Sementara untuk tahun ini, BPS mencatat inflasi Maret 2021 sebesar 0,08% lebih rendah dibanding inflasi Januari yang 0,26% dan Februari 0,1%. April lalu, terjadi inflasi 0,13%.

Keempat, sektor telekomunikasi. Jalinan komunikasi selama mudik ternyata juga makin meningkat sehingga sangatlah beralasan jika semua operator meningkatkan kapasitasnya agar komunikasi selama mudik tetap lancar. Fakta ini secara tidak langsung menunjukan adanya perputaran uang yang lebih besar untuk aspek telekomunikasi selama mudik dan juga menunjukan aspek sosial ekonomi mudik tidak diremehkan mata rantainya.

Pasca mudik juga ada ancaman di perkotaan yakni arus balik dengan sejumlah kalkulasi yang kompleks. Di antaranya semua potret sukses para pemudik menjadi muara hijrah ke perkotaan. Kalkulasi di atas adalah kondisi normal dan di situasi pandemi sebenarnya aspek telekomunikasi tetap diuntungkan jika mudik virtual secara online digencarkan.

Penulis : Edy Saputro

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Sumber : Harian KONTAN
Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

Sumber Antara News

  • Bagikan