Michelin fokus pada strategi all sustainable untuk menyongsong tahun 2030

  • Bagikan
arrow daftar

ILUSTRASI. Maskot Michelin. REUTERS/Philippe Wojazer

Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Tendi Mahadi

KABARIN.CO.ID – CLERMONT FERRAND. Salah satu perusahaan penghasil ban terbesar, Michelin umumkan akan fokus pada strategi “All Sustainable” di tahun 2030 mendatang. Upaya ini dilakukan untuk mencapai visi untuk mendapatkan keseimbangan antara planet, people, dan profit.

Pada tahun 2020 sendiri, lini bisnis Michelin ikut terdampak pandemi covid-19. Total penjualan yang didapatkan Michelin hanya € 20,5 miliar atau turun sekitar 15% yoy dari yang sebelumnya mencapai € 24,1 miliar. Sama halnya dengan laba operasi bisnis perusahaan yang turun sekitar 37% yoy menjadi € 1,9 miliar.

General Manager dan Chief Financial Officer Michelin Yves Chapot menjelaskan bahwa rencana strategis “All Sustainable” ini merupakan permulaan dari strategi perusahaan dalam sepuluh tahun ke depan. Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2030, Michelin akan mengalami perubahan signifikan dengan peningkatan dan penambahan bisnis baru.

Baca Juga: China denda Alibaba hingga Rp 40 triliun, ini penyebabnya

“Kemampuan Michelin untuk menciptakan kembali jati diri telah menjadi kekuatan utama Michelin selama lebih dari 130 tahun, yang hari ini memberikan rasa percaya diri kami untuk masa depan.” ujar Yves Chapot dalam kegiatan Capital Markets Day Michelin Group.

Rencana strategis baru Michelin ini akan mendorong pertumbuhan baru dan mengurangi dampak negatif eksternal. Pada saat yang bersamaan, perusahaan berencana akan terus mengembangkan bisnis ban serta mengintegrasikan bisnis baru, dengan fokus untuk menjaga keseimbangan neraca dan margin. 

Di area produksi, Michelin akan meningkatkan keseluruhan kapasitas produksi sambil fokus pada penyediaan suplai local to local.  Khususnya Asia, pada 2020, kapasitas produksi ban Michelin mencapai 18 persen dari total kapasitas produksi Michelin di seluruh dunia. 

Pada 2023, kapasitas tersebut akan ditingkatkan hingga mencapai 22% dan difokuskan melayani kebutuhan pasar Asia. Penambahan kapasitas diprioritaskan di Cina, Thailand, dan Indonesia, di mana Michelin memiliki fasilitas manufaktur yang cukup besar. 

Untuk Indonesia, penambahan kapasitas berasal dari pabrik ban milik Michelin, PT. Multistrada Arah Sarana. Michelin saat ini telah menginvestasikan dana untuk memodernisasi proses produksi Multistrada dan secara bertahap meningkatkan kapasitas, terutama untuk ban roda dua dan ban kendaraan penumpang. 

Baca Juga: Laut China Selatan memanas, kapal induk & kapal serbu amfibi AS gelar latihan militer

Michelin juga terus memperluas bisnis, berinvestasi, dan berinovasi. Tren mobilitas pasca-covid dan pertumbuhan pasar kendaraan listrik (EV) yang meningkat dipandang sebagai peluang pertumbuhan bagi perusahaan, yang telah mengembangkan kepemimpinan teknologi dari segi desain dan manufaktur ban untuk EV.  

Pada segmen transportasi, perusahaan akan secara selektif fokus dalam menciptakan nilai. Seperti contoh untuk ban khusus bagi kendaraan pertambangan, konstruksi, agrikultur, pesawat, serta sektor lainnya, Michelin akan tetap berupaya mengkapitalisasi diferensiasi produk dan layanannya. 

Dipimpin oleh kapasitas akan inovasi dan kepiawaian materinya, Michelin juga senantiasa terdorong untuk berekspansi lebih luas dari beberapa segmen bisnis seperti, layanan & solusi, komposit fleksibel, peralatan medis, 3D printing, dan mobilitas hidrogen. 

 

Reporter: Adrianus Octaviano
Editor: Tendi Mahadi

Sumber Antara News

  • Bagikan