oleh

Perang Dagang: Aktivitas Pabrik di Wilayah Asia Melemah

Aktivitas pabrik disejumlah wilayah Asia kian melemah pada akhir bulan lalu. Hal tersebut terjadi akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang dikhawatirkan dapat memperlambat laju ekonomi global serta dapat meningkatkan tekanan kepada para pengambil keputusan kebijakan disejumlah wilayah itu untuk memberikan stimulus.

Indikator terkait pertumbuhan ekonomi ini diprediksi kian memburuk hingga beberapa bulan ke depan. Hal tersebut dampak dari tarif perdagangan yang lebih tinggi dan berimbas pada perdagangan di pasar global. Sentimrn bisnis tersebut untuk lebih lanjutnya akan mengarah pada persoalan hilangnya pekerjaan dan keterlambatan para investor untuk mengambil keputusan dalam berinvestasi.

Seperti yang dikutip dari Reuters, para ekonom telah memprediksi akan terjadi resesi global yang akan memiliki dampak pada persaingan baru tingkat suku bunga rendah apabila perang dagang ini tidak menemukan titik tengah persoalannya pada KTT kelompok 20 di Osaka, jepang.

Di China, detak jantung ekonomi Asia, Indeks Pembelian Manajer Caixin/Markit Manufacturing (PMI) memperlihatkan perluasan moderat di 50,2 yang memeberikan tawaran bantuan jangka pendek kepada para investor setelah indeks resmi pada hari Jumat (31/5) menunjukkan kontraksi.

Prospek ekonomi belum mengalami perkembangan lagi sebab pertumbuhan output yang kian merosot, untuk beberapa pabrik yang tidak optimis, mereka menghentikan harga pabrik pada produksinya mulai sejak seri survei dimulai April 2012.

Posisi PMI saat ini berada di bawah batas 50 poin sehingga memisahkan kontraksi dari perluasan di Jepang, Malaysia, Korea Selatan dan Taiwan yang berada di bawah ekspektasi di Vietnam dan sedikit ada peningkatan di Filipina.

“Kejutan tambahan terkait meningkatnya ketegangan perdagangan tidak baik untuk perdagangan global dan juga untuk permintaan di AS, Cina dan Eropa terus melunak, yang sangat mungkin terjadi, hal tersebut akan menjadi pertanda buruk bagi Asia secara keseluruhan,” ujar Aidan Yao, ekonom senior pasar berkembang, di AXA Investment Managers.

Bank-bank sentral di Australia dan India diperkirakan akan menurunkan suku bunga minggu ini, dengan yang lain di seluruh dunia terlihat mengikuti dalam beberapa minggu dan bulan mendatang.

Ekonom HSBC Jingyang Chen mengatakan angka PMI bisa diartikan Beijing akan melipatgandakan pelonggaran untuk sektor perusahaan swasta.

Aktifitas Zona Euro diprediksi akan mengalami penurunan juga, sedangkan manufaktur Amerika Serikat diprediksi akan tumbuh dengan sangat hebat. Meski demikian, para ekonom telah memprediksikan bahwa pasar global pada akhirnya akan memberikan umpan balik bagi ekonomi Amerika Serikat.

J.P. Morgan mengharapkan bahwa pihak bank sentral AS, The Federal Reserve untuk melakukan pemotongan suku bunga dua kali tahun ini. Hal ini merupakan suatu perubahan besar dari perkiraan sebelumnya yang menyatakan bahwa suku bunga akan tetap ditahan hingga akhir tahun 2020.

Di India pertumbuhannya sangat bergantung pada permintaan domestik, perkembangan yang cepat dalam sektor manufaktur didorong oleh sentimen kemenangan Perdana Menteri Narendra Modi. Meski demikian, reformasi disektor ekonomi lebih lanjut juga sangat penting.

Filipina memperlihatkan bahwa permintaan domestik yang kuat dan pihaknya tidak bergantung pada sektor perdagangan. Sedangkan Vietnam salah satu negara cerminan dari pengalihan arus bisnis dan perdagangan akibat tarif.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News