oleh

Potensi Torium untuk Kemandirian Listrik Nasional

SEPERTI banyak negara di dunia, Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar untuk bisa mewujudkan kemandirian energi listrik yang lebih ramah lingkungan, terutama karena pemerintah menargetkan penutupan PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) secara bertahap mulai 2025 hingga 2055.

Namun, upaya mewujudkan sumber listrik pengganti batu bara tidak mudah. Energi terbarukan yang ada saat ini masih sangat jauh untuk bisa memenuhi kebutuhan listrik nasional. Salah satu opsi yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan energi listrik nasional selain batu bara ialah pembangkit listrik tenaga nuklir dengan bahan bakar torium (PLTT).

PLTT dianggap jauh lebih aman jika dibandingkan dengan PLTN yang menggunakan uranium sebagai bahan utama. Selain itu, PLTT diklaim lebih ramah lingkungan dan tidak berisiko mengontaminasi lingkungan di sekitar reaktor berada.

Di Indonesia, rencana pembangunan PLTT tengah dijajaki PT Thorcon Power Indonesia. PT Thorcon Power Indonesia berancang-ancang membangun reaktor PLTT dengan molten salt reactor di atas laut. Investasi yang disiapkan berkisar Rp17 triliun.

Bagaimana rencana pembangunan PLTT tersebut dijalankan PT Thorcon Power Indonesia, bagaimana persiapan dan kajian tentang keamanannya, serta mengapa PLTT dianggap lebih aman untuk dibangun? Berikut ini wawancara Media Indonesia dengan Chief Operating Officer (COO) PT Thorcon Power Indonesia, Bob S Effendi, di Jakarta, Kamis (30/9).

Selama ini, pemanfaatan energi nuklir menuai banyak pro dan kontra. Bagaimana sebenarnya keamanan dalam pemanfaatan energi nuklir?

Soal nuklir, mayoritas yang diketahui banyak orang ialah misinformasi dan disinformasi. Artinya, memang sebagian ada kesalahan informasi dan ada kesalahan info karena kesengajaan. Misinformasi pertama tentang nuklir ialah keselamatan. Bahwa nuklir berbahaya, itu tidak benar.

Kalau bicara bahaya, indikatornya itu, kan, kematian yang utama. Jadi, jelas kalau nilai kematiannya rendah, tidak bisa dianggap bahaya. Nuklir itu fatalitas kematiannya paling rendah jika dibandingkan dengan semua pembangkit lain di dunia. Itu sudah termasuk kejadian Fukushima dan Chernobyl. Dengan kata lain, nuklir itu paling aman. Memang punya risiko tinggi, tapi sesuatu yang berisiko tinggi, kan, tidak serta-merta berbahaya.

Sesuatu yang berisiko itu tidak menjadi bahaya bila ada empat hal: regulasi, sanksi, proteksi, dan budaya atau etika keselamatan. Keempat itu ada dan dijalankan, apa pun kegiatan yang berisiko tinggi, tidak bahaya. Nuklir itu empat-empatnya dilakukan dengan sangat ketat. Regulasi ketat sekali, ada nasional dan internasional. Yang mengawasi di nasional ada Bapeten, internasional ada International Atomic Energy Agency (IAEA). Jadi, nuklir itu dari semua pembangkit di dunia paling ketat diawasinya, ibaratnya seperti pakai mikroskop. Proteksi diberikan dan dilakukan berlapis-lapis. Budaya keselamatan bisa ditetapkan jadi bagian dari regulasi. Itu bukti bahwa industri nuklir merupakan yang paling patuh terhadap budaya keselamatan.

PLTN denga bahan bakar torium sendiri digadang-gadang lebih rendah tingkat fatality-nya ketimbang uranium?

Ketika banyak pihak mengatakan torium lebih unggul atau lebih aman jika dibandingkan dengan uranium, statement tersebut sesungguhnya kurang akurat. Yang membuat torium lebih aman dan murah bukanlah karena torium sebagai bahan bakar, melainkan karena reaktor yang dipakai, khususnya yang disebut thorium molten salt reactor. Itu pernah dioperasikan Oak Ridge National Lab pada 1965 dan yang juga akan dibangun Thorcon.

Itu memakai bahan bakar torium garam cair dan tidak bertekanan sehingga kejadian seperti Fukushima tidak mungkin terjadi, dijamin. Badan nuklir dunia, IAEA, bahkan mengatakan molten salt reactor akan menjadi game changer di Industri nuklir.

Pada 2019, kami juga membuat kajian bersama P3Tek Balitbang ESDM dan menyimpulkan hal sama bahwa kejadian ‘station black-out’ seperti Fukushima yang mana listrik padam, genset mati, yang akhirnya menyebabkan terjadi pelelehan teras (core meltodown) tidak mungkin terjadi. “TMSR 500 merespons dengan aman terhadap pemadaman stasiun seperti kecelakaan Fukushima (bahkan pada skenario yang lebih buruk daripada Fukushima) dapat diatasi dengan baik pada design Thorcon” (kajian P3Tek).

Dari sisi lingkungan, PLTN berbasis torium lebih ramah lingkungan?

Dari sisi lingkungan, PLTN itu jelas tidak menghasilkan C02. Kita tidak bisa menggadang bahwa gas alam itu ramah lingkungan. Das alami, tetap ada C02 meski 50% ketimbang batu bara. Namun, kalau target kita pada 2060 ialah net zero, berapa pun CO2-nya, akan menambah emisi, jadi gas tak bisa ramah lingkungan. Belum lagi kandungan metana yang sesungguhnya lebih berbahaya karena memiliki kemampuan menangkap panas jauh lebih tinggi 33 kali ketimbang CO2. Jadi, artinya metana itu dari sisi gas rumah kaca lebih berbahaya buat lingkungan. Cuma, kan, narasi itu jarang sekali diangkat.

Memang ada beberapa lagi pembangkit yang juga tak ada emisi, seperti hidro, solar, dan wind. Namun, ketika berbicara ramah lingkungan, poin kedua yang harus dibahas juga itu kriterianya ialah footprint. Bagaimana kita bisa mengatakan ramah lingkungan kalau ada land clearing secara masif untuk pasang pembangkit yang bahkan intermiten yang kadang tak selalu bisa beroperasi?

Ramah lingkungan itu harus tidak mengganggu ekosistem dan lingkungan. Jadi, kita juga harus berbicara soal densitas energi atau kerapatan energi. Nuklir memiliki kerapatan energi tertinggi, 80 juta kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan batu bara. Jadi, footprint-nya akan kecil sekali. Kalau kita mau bangun PLT torium untuk 100 MW, kita hanya butuh paling 10 hektare. Kalau PLTN umum butuh 50 hektare, batu bara 200-an hektare, kalau kincir angin, mungkin se-Jakarta ditutup. Sulit seperti itu dibilang ramah lingkungan, mengingat kita merupakan negara kepulauan, kecuali kita seperti Arab Saudi yang banyak padang pasir.

Kemudian, untuk torium sendiri, torium lebih sulit dapat dijadikan bahan baku senjata nuklir. Dari sisi limbah, paruh waktunya juga tidak dalam skala ribuan tahun selama bahan bakar berbasis siklus uranium, tetapi hanya dalam orde ratusan tahun. Hanya butuh sekitar 200 tahun hingga efek radiasinya hilang.

Bagaimana pengelolaan limbah akan dilakukan agar tak mengontaminasi lingkungan sekitarnya?

Limbah nuklir itu hanya satu per dua ratus ribu dari limbah industri secara total. Luar biasa kecil. Lalu, disimpan dalam drycase sehingga tidak ke mana-mana. Itu (limbah nuklir) dikelola dan diawasi ketat IAIA dan Bappeten, terakhir disimpan di bawah tanah. Jadi, sebenarnya tidak ada masalah. Pembangkit lain banyak yang tidak terkelola baik limbahnya. Batu bara dibiarkan begitu saja.

Bahkan, energi terbarukan seperti solar panel itu juga limbahnya tidak bisa diapa-apakan, padahal mengandung zat beracun seperti selenium. Ditumpuk saja di tempat sampah elektronik. Itu jadi masalah sekarang di Tiongkok dan Australia. Untuk kincir angin, batangnya bisa di-recycle, tapi blades-nya yang sangat panjang bisa sampai 100 meter tidak bisa diapa-apakan karena dari fiber. Dalam fiber, ada zat yang berdasarkan penelitian dapat menimbulkan infertilitas dan kanker rahim ketika tidak terkelola dengan baik lalu terdegradasi dan terserap ke tanah.

Orang jarang membahas itu, tapi orang banyak membicarakan tentang limbah nuklir yang sangat kecil dan dikelola dan diawasi ketat. Kesimpulannya, dampak nuklir terhadap lingkungan dan manusia tidak lebih besar dari green energy lainnya. Sama saja, semua punya dampak. Dengan kata lain, nuklir itu green statusnya.

Sudah berapa negara menerapkan penggunaan torium dalam pembakaran di pembangkit listriknya? 

India dan Tiongkok saat ini lagi melakukan penelitian besar-besaran terhadap pemanfaatan torium sebagai bahan bakar nuklir, tetapi keduanya pakai jenis reaktor berbeda. India memakai reaktor tipe advance heavy water reactor, sementara Tiongkok memakai molten salt reactor. Reaktor MSR Tiongkok ditargetkan pada tahun depan beroperasi walaupun masih dalam skala 3 MW.

Apakah bila PLTT dibangun di Indonesia kita mampu memenuhi bahan baku secara mandiri? 

Bila PLTT dibangun di Indonesia, tentunya kami akan membangun pabrik bahan bakar yang akan menyuplai bukan saja PLTT yang beroperasi di Indonesia, melainkan juga yang beroperasi di luar Indonesia sehingga menjadi komoditas ekspor. Kami Saat ini dalam proses membangun laboratorium penelitian bahan bakar PLTT dengan ITB yang nantinya dapat menjadi embrio industri bahan bakar.

Torium merupakan mineral ikutan timah yang terdapat dalam monazite yang tersebar cukup banyak di Bangka, Kalimantan, dan Sulawesi. Cadangan torium belum diketahui secara akurat karena belum pernah disurvei komprehesif oleh Batan. Namun, banyak pakar menduga sumber daya torium di Indonesia cukup untuk ratusan tahun, bahkan mungkin 1.000 tahun.

Keunggulan lain memilih siklus torium daripada siklus uranium ialah untuk mencapai kemandirian energi melalui roadmap tiga tahap yang mana di tahap kedua Indonesia membuat reaktor yang berkemampuan breeding. Artinya, menghasilkan lebih banyak bahan bakar daripada yang dimasukkan. Dengan kata lain, dalam tahap dua, Indonesia membuat reaktor yang dapat memanen uranium-233 dari torium sehingga pada tahap tiga, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor bahan fisil U-235, tetapi dapat memakai fisil U-233 yang didapat pada tahap dua sehingga pada tahap tiga Indonesia dapat tercapai kemandirian energi.

Bila akan membangun PLT torium, akankah menggandeng PLN sebagai pemegang saham? Atau PLN hanya sebagai off-taker dari listrik yang dihasilkan PLT torium?

Opsi tersebut masih terbuka. Indonesia Power, anak perusahaan PLN, telah menandatangani MoU dengan Thorcon untuk mengkaji prospek kerja sama tersebut. Saat ini, asumsinya PLN ialah off-taker dengan target harga jual listrik di kisaran $6 sen per kwh. Dengan capacity factor di atas 90%, jelas menurut kami merupakan penawaran yang sangat menarik bagi PLN, apalagi mengingat pasca-2025, PLTU sudah mulai dipensiunkan dan menurut pemerintah pada 2040 PLTU batu bara tidak boleh beroperasi lagi.

Bila hal ini terjadi, PLN akan kesulitan mencari pembangkit yang at-par atau memiliki kriteria dan kemampuan sama dengan PLT batu bara. Saat ini, jujur belum ada pembangkit nonfosil yang dapat memenuhi kriteria tersebut, at-par.

Walau PLTT saat ini masih dalam pengembangan dan persiapan untuk membangun yang direncanakan pada 2024, kami menargetkan sudah dapat beropersi komersial pada 2028-2029 yang momennya tepat bila PLTU dipensiunkan pada 2040. Maka itu, PLTT nantinya akan dapat menjadi opsi yang dapat menggantikan PLTU batu bara.

Mungkin ada dua fitur yang akan menarik bagi PLN ialah bahwa pertama, PLTT memiliki kemampuan black-start, yaitu kemampuan bangkit sendiri ketika jaringan jatuh sebagaimana terjadi blackout se-Jawa-Bali pada september 2019 yang mana dari 200 lebih pembangkit di Jawa ternyata hanya ada tiga yang mampu blackstart.

Bagaimana progres rencana pengembangan PLTT oleh PT Thorcon saat ini?

Kita sudah mendapatkan rekomendasi dari pemerintah, dari Kemenko Marves, untuk melakukan persiapan implementasi. Persiapan ini ada beberapa kajian yang diminta pemerintah. Pertama, survei penerimaan masyarakat yang kita sudah selesai lakukan di Bangka Belitung. Sangat positif hasilnya.

Kedua, diminta pemerintah ialah feasibility studies, great studies, dan side studies. Nah, feasibility studies, kita sudah kontrak dengan PLN Engeneering, anak perusahaan PLN, untuk melakukan ini dan baru kita akan mulai mungkin bulan depan. Targetnya (selesai dalam) 10 bulan.

Untuk side studies, kita memilih sebuah pulau yang saya enggak bisa sebut namanya, di Bangka yang lumayan cukup jauh, hampir 32 kilometer. Kita juga melakukan studi ekologi dan lingkungan, daya dukung pulau itu walaupun tidak diminta pemerintah, kita juga lakukan untuk melihatkan bahwasanya dampak terhadap lingkungannya itu minimal sekali. Untuk studi lingkungan, kita menunjuk ITB dan dan UBB (Universitas Bangka Belitung) yang mudah-mudahan pada November juga kita akan mulai.

Nomor tiga ialah yang diminta pemerintah, yakni kajian keselamatan. Nah, pemerintah melakukan kajian keselamatan oleh konsultan independen dan kita sepakati konsultan independen yang kita anggap sama-sama merasa independen merasa punya kepentingan gitu, ya, ialah IAIA, badan nuklir dunia dan kita pemerintah juga sudah mengirim surat kepada IAIA untuk mengkaji.

Nah, yang keempat ialah mengkaji local content. Karena kita mengeklaim, salah satu yang kita klaim ialah rektor ini nantinya dapat dibangun di Indonesia dan kita sudah komunikasi dengan PT PAL. PT PAL sudah melihat desainnya, mengkaji selama setahun, dan menyatakan secara tertulis bahwa mereka sanggup membuat reaktor ini.

Apakah sudah ada cukup payung hukum untuk merealisasikan tenaga nuklir atau PLTT di Indonesia?

Dari segi regulasi, tidak ada larangan pembangunan PLTN di Indonesia.

Apakah torium bisa jadi solusi tercapainya bauran energi ramah lingkungan di Indonesia?

Jelas sekali. Bukan saja menjadi solusi energi ramah lingkungan, melainkan juga dapat tercapainya kemandirian energi sebagaimana saya sampaikan pada sebelumnya dan akan memposisikan Indonesia sejajar dengan negara-negara nuklir lainnya yang akan menaikkan nilai tawar Indonesia di geopolitik dunia. Dengan kata lain, akan menjadikan Indonesia bangsa besar sebagaimana cita-cita Soekarno pada 60 tahun yang lalu, ‘untuk Indonesia menjadi bangsa besar kuasai nuklir dan antariksa’.

Dengan desain dan kajian yang dibuat oleh PT Thorcon, apakah dapat dipastikan tragedi seperti di Fukushima dan Chernobyl tak akan terjadi?

Di Fukushima itu, kan, terjadi karena listrik mati, namanya station blackout. Karena itu, kita akan melakukan uji real life Fukushima dengan visi. Kita undang semua wartawan, media, seluruh dunia. Kita akan memperlihatkan.

Kita akan matikan listrik, pompa mati, semua mati, bahkan lebih parah dari Fukushima. Untuk melihat apa yang akan terjadi dengan reaktor ini. Kita confident, tentunya kita sudah simulasikan dulu di komputer. Bappeten setuju untuk tes ini. Ini akan menjadi, menurut saya, milestone karena tidak ada PLTN yang berani melakukan testing Fukushima walaupun tentunya aman. Kenapa? Karena reaktor itu akan rusak dan kita juga akan mengorbankan reaktor itu. Reaktor itu rusak, tapi tidak akan terjadi rilis.

Reaktor kita perbedaannya bisa kita ganti, bisa kita copot karena di atas kapal. Jadi, kayak catridge, bisa diangkat. Nah, kalau PLTN lain, kan, tidak bisa dikungkung dalam suatu struktur beton. Jadi, kalau rusak, ya, hilang semua investasinya, kalau kita tidak dan kita akan perlihatkan tidak terjadi apa-apa. Panas bisa terbuang walaupun reaktor rusak, tidak bisa dipakai lagi, kita akan ganti reaktor baru sesudah itu. Namun, kita bisa memperlihatkan real life kasus Fukushima, lebih parah, tidak terjadi release of radiation.

Satu lagi, sebenarnya yang jadi ancaman itu, kan, tekanan. Nah, tekanan ini yang kita eliminasi dengan molten salt reactor. Jadi, sangat aman dan kejadian seperti di Fukushima itu tidak akan terjadi dengan reaktor yang kami bangun. (M-2)

 

Sumber Antara News

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *